Review Seminar PT Newmont Nusa Tenggara “Best Mining Practise and Corporate Social Responsibility” | Aula UTS | 12 JUNI 2015
Posted by : Unknown
Sunday, 30 August 2015
Mahasiswa Universitas Teknologi Sumbawa (UTS) mendapat wawasan
tentang pertambangan, bagaimana proses, penerapan aturan, konstribusi termasuk
perberdayaan terhadap masyarakat sekitarnya. Ini diperoleh setelah PT Newmont
Nusa Tenggara (PTNNT) menggelar NNT Goes to Campus di perguruan tinggi yang
berada di kaki bukit Olat Maras, Batu Alang, Kecamatan Moyo Hulu ini, Jumat
(12/06). Kegiatan yang dirangkaikan dengan Seminar dan Diskusi bertajuk “Best
Mining Practise and Corporate Social Responsibility” ini menghadirkan Ir H
Syarafuddin Jarot selaku Manager Corporate Social Responsibility PTNNT dan H
Ruslan Ahmad, General Supervisor Site Communication.
Rektor UTS Dr Arief Budi
Witarto M.Eng saat membuka kegiatan itu mengatakan NNT Goes to Campus ini
sangat penting agar mahasiswanya mendapat pengetahuan yang komprehensif
mengenai pertambangan terutama Proyek Batu Hijau yang sedang dilaksanakan PT
Newmont Nusa Tenggara sebagai salah satu perusahaan tambang emas dan tembaga terbesar
di Indonesia bahkan dunia. Newmont juga salah satu industry yang berperan
penting dalam menggerakkan roda perekomian di NTB. Karenanya keberadaan Newmont
dinilai sebagai berkah yang patut disyukuri.
Ia berharap dengan
mengetahui lebih jauh tentang NNT, mahasiswanya menjadi tertarik bekerja di
perusahaan tambang tersebut. Selain itu muncul mimpi besar mahasiswa UTS untuk
memiliki tambang sendiri. Ini bukan mustahil karena sudah banyak orang biasa
yang menjadi pengusaha sukses di Indonesia yang memulainya dari nol. Untuk
mencapai semua ini membutuhkan proses yang dimulai dari hal kecil, yakni
disiplin dan taat terhadap aturan. Hal tersebut menjadi latar belakang PTNNT
menjadi perusahaan yang besar dengan predikat yang cukup baik. Menurut
Doktor Arief, PTNNT tidak mungkin bekerja hanya dengan fasilitas yang memadai,
pasti ada aturan yang mendukungnya. “Ini pasti berjalan dengan baik karena ada
aturan yang baik yang dijalankan dan ditaati,” ujarnya.'
Acara seminar tersebut terbagi menjadi tiga sesi diskusi. Sesi pertama yang menyampaikan materi adalah Pak H. Syarafuddin Jarot. Beliau membahas tentang pengembangan program tanggung jawab sosial yang
efektif, berkelanjutan partisipatif dan berkemitraan yang mendukung tercapainya
peningkatan kesejahteraan dan kemandirian masyarakat. Untuk mencapai misinya
Pak H. Syarafuddin Jarot menjelaskan proses penyusunan rencana strategis tanggung
jawab sosial perusahaan (TSP) 2014-2018 melalui berbagai tahapan yang diantaranya
adalah mengidentifikasi visi, misi dan evaluasi kinerja pengembangan
masyarakat, kebijakan PTNNT dan pemerintah daerah.
Di bagian lain Pak H. Syarafuddin Jarot menyinggung soal program beasiswa PTNNT. Sejak
1998—2014, penerima beasiswa dari PTNNT mencapai 14.353 siswa/mahasiswa.
Sebagian besar berasal dari Kabupaten Sumbawa dan Sumbawa Barat. Total dana
beasiswa yang direalisasikan PTNNT mencapai Rp 22,5 Milyar lebih. Beasiswa ini
diberikan kepada siswa/mahasiswa berprestasi asal NTB dengan jenis beasiswa
Bulaeng (beasiswa tertinggi bagi mahasiswa S1, S2 dan S3 dengan pembiayaan
penuh), emas (beasiswa mahasiswa S1 dengan pembiayaan SPP dan biaya hidup),
Platinum (beasiswa 1 tahun S2 dan S3), Perak (beasiswa 1 tahun untuk siswa
SMP/SMA sederajat dan mahasiswa S1), dan bantuan peningkatan prestasi bagi
mahasiswa S1 asal KSB.
Sesi dua membahas tentang gambaran umum
dan menjelaskan lebih detail tentang PT Newmont Nusa Tenggara yang
di sampaikan oleh Bapak H. Ruslan Ahmad selaku General Supervisor Site Communications PT Newmont Nusa Tenggara. Disini beliau membahas tentang gambaran umum Proses Penambangan ( Peledakan,Pengeboran, Pengangkutan
dan Pemuatan), Proses Pengolahan, Proses Pengolahan – Nilai Tambah, Pengelolaan
Lingkungan – Penghargaan, Pengelolaan
Lingkungan – Tahap Reklamasi, Pengelolaan Lingkungan – Reklamasi, Pengelolaan Lingkungan – Reklamasi, Pengelolaan Lingkungan – Pemantauan
Air Laut dan Tailing, dan Program Penutupan
Tambang.
Pak H. Ruslan Ahmad juga menjelaskan sejarah singkat PTNNT. Perusahaan
tambang yang berkantor pusat di Colorado Amerika ini memulai kegiatan
eksplorasinya pada Tahun 1980-an dan menemukan cebakan tembaga pada Tahun 1990
yang kemudian diberi nama Batu Hijau. Hasil kajian tekhnis dan lingkungan
selama beberapa tahun memastikan PTNNT melakukan kegiatan eksploitasinya dan
mulai beroperasi secara penuh pada Tahun 2000. Sebanyak lebih dari 7000 pekerja
termasuk pekerja kontrak yang sebagian besar berasal dari Provinsi NTB yang
mendukung kelancaran operasional PTNNT. Untuk meningkatkan kapasitasnya, para
pekerja ini diberikan peluang mengikuti pelatihan peningkatan keterampilan
sesuai kebutuhan. Karenanya mahasiswa UTS bisa memiliki kesempatan yang sama.
“Mulai dari sekarang harus mempersiapkan diri dengan belajar tekun, disiplin
dan memiliki semangat yang tinggi untuk maju,” pesan Pak H. Ruslan Ahmad.
Sesi tiga membahas tentang sustainable mining
bootcamp yang
disampaikan oleh kak Subhan Azharullah
selaku peserta bootcamp IV. Kak Subhan menjelaskan secara detail tentang
bootcamp, apa itu bootcamp dan syarat apa saja untuk mengikuti bootcamp
tersebut. Kak Subhan juga berbagi pengalaman selama mengikuti bootcamp kepada
kita semua.
Persyaratan untuk mengikuti program ini hanyalah
semangat untuk berbagi pengalaman kepada khalayak luas selama kegiatan
berlangsung melalui akun-akun media sosial yang peserta miliki. Dalam hal ini,
peserta memiliki kebebasan untuk menginformasikan hal apapun ke khalayak tanpa
ada intervensi dari PTNNT.
Mahasiswa UTS sangat
antusias mengikuti diskusi dan seminar ini. Dibuktikan dengan banyaknya
pertanyaan yang mereka ajukan membuat dua pemateri ini kewalahan untuk
menjawabnya. Mulai dari proses penanganan lingkungan terutama pembuangan
tailing di Teluk Senunu, proses menghasilkan produk emas dan tembaga hingga isu
lainnya seperti pengayaan uranium. Selain itu kami mengaku
tertarik untuk mengikuti Sustainable Mining Bootcamp. Acara ini kemudian
ditutup dengan pembagian doorprize setelah mampu menjawab pertanyaan yang
diajukan panitia seputar materi yang disampaikan di dalam seminar.



